RESAH
KARENA MU
Ketika
sebuah cinta hadir ditengah- tengah aktivitas yang ada. Begitu juga yang
dirasakan oleh Rara. Ia merupakan salah satu wanita aktivis di sebuah Kampus
Swasta. Dengan tekat, usaha dan niat yang kuat dia berhasil kuliah tanpa biaya.
Butuh perjuangan yang ekstra untuk bisa melangkahkan kaki sampai sejauh ini.
Latar belakang keluarga yang tidak begitu mementingkan pendidikan membuatnya
harus melangkah sendiri, perlahan tapi pasti dia meyakinkan keluarga besarnya
bahwa langkahnya ini tidak akan sia- sia. Dan sampai ahirnya dia telah masuk
kedalamnya walaupun disetiap langkahnya memiliki rintangan yang menantang.
Seperti
saat ini, tak terasa sudah dua tahun ia mengikuti perkuliahan dan sekarang
tepat memasuki semester lima. Benar adanya bunyi pepatah mahasiswa bahwa
“semakin tinggi tingkatan mu semakin tinggi tingkat kebosanan mu”. Yaa.. dan
sekarang dialami pula oleh Rara. Diawal semester lima ini banyak sekali kegiatan
yang membuat dia meduakan perkuliahannya, melupakan niat awal langkahnya,
menyampingkan semua urusan yang semestinya dan mendahulukan urusan yang tak
semestinya.
***
Hari
yang cerah mengawali langkahnya pada Senin pagi ini. Seperti biasa diawal bulan,
Kampus selalu mengadakan Upacara rutin. Dengan langkah tergesa- gesa Rara
menuju halaman depan kampus. Ya sepagi ini ia telah sibuk dengan persiapan
upacara, bukannya karena dia ingin menyibukkan diri, tetapi ini merupakan
amanah yang sudah setengah tahun ia emban. Sejak melangkahkan kakinya untuk
kuliah, ia bertekad agar bisa masuk dan menjabat serta berperan aktif di
organisasi kampus. Dan alhamdulilah setelah bergabung menjadi anggota selama
setahun, di tahun kedua ini ia telah menjabat menjadi sekertaris umum BEM
Kampus.
“tolong di cek soundnya ya” pintanya
kepada salah seorang temannya.
“siap Bu Sekum” sambil tersenyum
temannya menjawab dan bergegas melakukan apa yang ia pinta.
Rara
hanya bisa tersenyum dan tersipu malu saat semua memanggilnya ibu sekum. Ada
rasa bangga tersendiri untuk dirinya, karena pada ahirnya salah satu niatnya
tercapai. Begiitu banyak kegiatan- kegiatan yang ia lakukan sejak ia mengikuti
semua kegiatan dikampus, terlebih ketika ia masuk BEM. Walaupun begitu ia tidak
pernah lupa dengan niat awalnya, ia selalu belajar dan mengerjakan tugas tepat
waktu serta aktif dikelas agar mendapat IP tertinggi dikelasnya. Dan itu
terbukti di setiap ahir semester hasil dari yang ia tanam selama ini berbuah
manis. Tetapi itu dahulu, sebelum warna merah jambu menyapa.
Semakin
hari, semakin banyak godaan serta cobaan diperjalanan hidupnya. Ketika mahluk
bergelar immawan hadir dihidupnya membuat langkahnya tergoyahkan. Banyak sekali
perubahan- perubahan dihidupnya. Teman- teman disekelilingpun jmerasaknnya.
Suasana
pasar terminal pagi selalu ada dikampus ketika dosen tercinta tidak memberikan
kepastian yang jelas. Pemandangan mahasiswa sedang sibuk dengan gadgetnya,
sibuk bergosip ria dan sibuk dengan tingkah laku yang semaunya. Tapi berbeda
dengan Rara yang dahulunya selalu diam dan duduk dibelakang dengan heandset
ditelinga dan tidak pernah peduli dengan suasana yang ada.
“dosennya hadir gak sii...kalau enggak
pulang ajaa yukk” ajaknyaa ke teman- teman dikelasnya. Membuat teman sekelas yang
lagi sibuk dengan dunianya masing- masing kompak melongo dengan tanya besar
dikepalanya. Ya hanya satu yang ada dipikiran mereka semua.... Sejak kapan Rara
Ferlanda pengen cepet pulang. Karena biasanya dia yang menjadi penunggu kampus,
disaat teman- temannya sudah pulang semua, Rara masih terlihat didepan perpustakan hanya untuk
internetan gratis dengan alasan memanfaatnkan fasilitas yang ada lagipula kita
sudah bayar.
“mau ngapain sih cantik, kok buru- buru
pulang” goda salah satu teman sekelasnya.
“ya pulang aja, masih banyak tugas
juga, daripada nungguin gak jelas gini” jawabnnya kesal.
“sekarang Rara udah mulai nakal yaa,
maunya pulang duluan terus” ledek yang lain. Membuat Rara berhenti bicara.
Begitulah
sehari- hari yang Rara rasakan, ia sebenarnya merasakan apa yang dirasakan
teman- temannya. Semester ini dia selalu banyak izinya hanya demi sebuah
kegiatan, selalu mengantuk ketika ada teman yang sedang presentasi, tidak
konsentrasi ketika dosen sedang menjelaskan dan selalu yang ia harapkan pulang.
Bukan karena ada keperluan, dia hanya merasa lelah dan ingin pulang serta
istirahat di kosan.
Tak
terasa Ujian Ahir Semester telah dilaksanakan sepekan yang lalu. Dan sekarang
tiba saat yang menegangkan bagi Rara. dengan rasa malas ia melangkah menuju lab
komputer dilantai dua MIPA. dengan perlahan ia membuka SIAKAD dengan NPM
15040002. Tak lama untuk Rara membukanya, tak ada hitungan jam ia sudah keluar
dari ruangan tersebut. Dengan wajah lesu, lemas dan tak bertenaga ia melangkahkan
kakinya dengan tergesa- gesa. Sampai ia tidak sadar, bahwa didepannya ada
teman- temannya.
BRUKKKK....
Rara tanpa sengaja menabrak salah satu temannya yang sedang berjalan menuju
ruangan yang telah ia datangi tadi.
“kenapa loh raa” tanya sadiah.
“enggak, maaf- gak sengaja” ucap Rara
kemudia pergi tanpa permisi.
Setelah
sampai dikosan, tidak seperti biasanya setiap pulang kuliah Rara selalu menyapa
semua penghuni kosan terutama teman- teman kesayangannya. Ia langsung masuk ke
kamar. Didalam tak dapat ditahan lagi air mata yang sedari tadi ingin ia
keluarkan menetes perlahan. Terlebih saat panggilan masuk kedua orang tuanya, Rara
tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
“Halo, Assallamuallaikum” suara
diseberang sana menyapa.
Tak
ada respon apapun dari Rara, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menjawabnya.
Tetapi ia takut ibunya mendengar suaranya kali ini.
“Halo-halo-halo,Halo, kak,
Halo...kenapa lagi hp ini” gerutu sang ibu disana. Ya sang ibu mengira
jaringannya susah atau hp nya yang sedang error. Tak enak hati, setelah menarik
nafas panjang dan mencoba menenangkan diri Rara menjawab salam ibunya.
“Iyaa...Waallaikumsalam Wr.Wb”jawabnnya
sejelas mungkin agar sang ibu tidak mengetahui keadaannya saat ini. Tapi itu
hanya harapan Rara, perasaan seorang ibu yang selama ini begitu dengan dengan Rara
membuatnya tidak bisa dibohongi oleh anak yang selama ini selalu jujur
kepadanya.
“Kakak kenapa? Gimana hasil UAS nya?
Udah diliat belum nilainya?” tanya ibunya penasaran.
“Iya udah tadi diliat, tapi KHS nya
belum bisa diambil Cuma liat dari komputer aja....Tapii nilainyaa ada yang B
lohhh” ungkapnya sambil terisakk.
“Kayaknya bukan Rara lagi yang
tertinggi dikelas, teman Rara ada yang A semua,,,ada satu orang yang A
semuanyaa...gak mau buu....gak rela kalau dia IP nya tinggi...padahal dia juga
jarang aktif dikelas kenapa juga bisa dia lebih tinggi dari Rara...pasti itu
karena dia dekat sama dosennya. Emang- emang dosen itu, katanya objektif tapi
nyatanya subjektif.
Kalau
gak dekat sama dosen pasti nilainyaa gak akan dapet A” jelas Rara panjang lebar
membela diri. Rara tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Apalagi sampai
orang tuanya tau dia selama ini lebih mementingkan kegiatan daripada studi
kuliahnya.
“emangnya IP nya berapa sekarang? Yang
gede berapa?” tanya ibunya lagi.
“Cuma 3.92 siih...tapi temen ria itu
4.00” katanya kecewa.
“ya udah gak apa- apa, belajar lebih
giat lagi. Udah- udah lagi ngikutin kegiatannya........ dikurangin kegiatannya,
jangan menyepelekan kuliahnya. Ikut organisasi boleh, tapi jangan sampai
kuliahnya terbengkalai. Ingat kak, menyesal itu hanya ada dibelakang” nasehat
sang ibu. Iya tau perasaan anaknya saat ini. Beliau juga tau bahwa selama satu semester
ini banyak perubahan di anak gadisnya. Terutama dibidang akademik.
“iyaa bu, gak lagi... semester depan
udah gak ikutan organisasi lagi. Kan udah ganti jabatan juga, terus udah
semester atas...sibuk sama tugas- tugas mau proposal” kata Rara pasti. Saat itu
pula ia bertekat untuk lebih fokus lagi kepada kuliahnya dan mulai melangkah
dari awal kembali menjadi mahasiswi yang berprestasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar