Senin, 19 Februari 2018

CERPEN "RESAH KARENA MU"


RESAH KARENA MU
          Ketika sebuah cinta hadir ditengah- tengah aktivitas yang ada. Begitu juga yang dirasakan oleh Rara. Ia merupakan salah satu wanita aktivis di sebuah Kampus Swasta. Dengan tekat, usaha dan niat yang kuat dia berhasil kuliah tanpa biaya. Butuh perjuangan yang ekstra untuk bisa melangkahkan kaki sampai sejauh ini. Latar belakang keluarga yang tidak begitu mementingkan pendidikan membuatnya harus melangkah sendiri, perlahan tapi pasti dia meyakinkan keluarga besarnya bahwa langkahnya ini tidak akan sia- sia. Dan sampai ahirnya dia telah masuk kedalamnya walaupun disetiap langkahnya memiliki rintangan yang menantang.
          Seperti saat ini, tak terasa sudah dua tahun ia mengikuti perkuliahan dan sekarang tepat memasuki semester lima. Benar adanya bunyi pepatah mahasiswa bahwa “semakin tinggi tingkatan mu semakin tinggi tingkat kebosanan mu”. Yaa.. dan sekarang dialami pula oleh Rara. Diawal semester lima ini banyak sekali kegiatan yang membuat dia meduakan perkuliahannya, melupakan niat awal langkahnya, menyampingkan semua urusan yang semestinya dan mendahulukan urusan yang tak semestinya.
***

          Hari yang cerah mengawali langkahnya pada Senin pagi ini. Seperti biasa diawal bulan, Kampus selalu mengadakan Upacara rutin. Dengan langkah tergesa- gesa Rara menuju halaman depan kampus. Ya sepagi ini ia telah sibuk dengan persiapan upacara, bukannya karena dia ingin menyibukkan diri, tetapi ini merupakan amanah yang sudah setengah tahun ia emban. Sejak melangkahkan kakinya untuk kuliah, ia bertekad agar bisa masuk dan menjabat serta berperan aktif di organisasi kampus. Dan alhamdulilah setelah bergabung menjadi anggota selama setahun, di tahun kedua ini ia telah menjabat menjadi sekertaris umum BEM Kampus.
“tolong di cek soundnya ya” pintanya kepada salah seorang temannya.
“siap Bu Sekum” sambil tersenyum temannya menjawab dan bergegas melakukan apa yang ia pinta.
          Rara hanya bisa tersenyum dan tersipu malu saat semua memanggilnya ibu sekum. Ada rasa bangga tersendiri untuk dirinya, karena pada ahirnya salah satu niatnya tercapai. Begiitu banyak kegiatan- kegiatan yang ia lakukan sejak ia mengikuti semua kegiatan dikampus, terlebih ketika ia masuk BEM. Walaupun begitu ia tidak pernah lupa dengan niat awalnya, ia selalu belajar dan mengerjakan tugas tepat waktu serta aktif dikelas agar mendapat IP tertinggi dikelasnya. Dan itu terbukti di setiap ahir semester hasil dari yang ia tanam selama ini berbuah manis. Tetapi itu dahulu, sebelum warna merah jambu menyapa.
          Semakin hari, semakin banyak godaan serta cobaan diperjalanan hidupnya. Ketika mahluk bergelar immawan hadir dihidupnya membuat langkahnya tergoyahkan. Banyak sekali perubahan- perubahan dihidupnya. Teman- teman disekelilingpun jmerasaknnya.
          Suasana pasar terminal pagi selalu ada dikampus ketika dosen tercinta tidak memberikan kepastian yang jelas. Pemandangan mahasiswa sedang sibuk dengan gadgetnya, sibuk bergosip ria dan sibuk dengan tingkah laku yang semaunya. Tapi berbeda dengan Rara yang dahulunya selalu diam dan duduk dibelakang dengan heandset ditelinga dan tidak pernah peduli dengan suasana yang ada.
“dosennya hadir gak sii...kalau enggak pulang ajaa yukk” ajaknyaa ke teman- teman dikelasnya. Membuat teman sekelas yang lagi sibuk dengan dunianya masing- masing kompak melongo dengan tanya besar dikepalanya. Ya hanya satu yang ada dipikiran mereka semua.... Sejak kapan Rara Ferlanda pengen cepet pulang. Karena biasanya dia yang menjadi penunggu kampus, disaat teman- temannya sudah pulang semua, Rara  masih terlihat didepan perpustakan hanya untuk internetan gratis dengan alasan memanfaatnkan fasilitas yang ada lagipula kita sudah bayar.
“mau ngapain sih cantik, kok buru- buru pulang” goda salah satu teman sekelasnya.
“ya pulang aja, masih banyak tugas juga, daripada nungguin gak jelas gini” jawabnnya kesal.
“sekarang Rara udah mulai nakal yaa, maunya pulang duluan terus” ledek yang lain. Membuat Rara berhenti bicara.
          Begitulah sehari- hari yang Rara rasakan, ia sebenarnya merasakan apa yang dirasakan teman- temannya. Semester ini dia selalu banyak izinya hanya demi sebuah kegiatan, selalu mengantuk ketika ada teman yang sedang presentasi, tidak konsentrasi ketika dosen sedang menjelaskan dan selalu yang ia harapkan pulang. Bukan karena ada keperluan, dia hanya merasa lelah dan ingin pulang serta istirahat di kosan.
          Tak terasa Ujian Ahir Semester telah dilaksanakan sepekan yang lalu. Dan sekarang tiba saat yang menegangkan bagi Rara. dengan rasa malas ia melangkah menuju lab komputer dilantai dua MIPA. dengan perlahan ia membuka SIAKAD dengan NPM 15040002. Tak lama untuk Rara membukanya, tak ada hitungan jam ia sudah keluar dari ruangan tersebut. Dengan wajah lesu, lemas dan tak bertenaga ia melangkahkan kakinya dengan tergesa- gesa. Sampai ia tidak sadar, bahwa didepannya ada teman- temannya.
          BRUKKKK.... Rara tanpa sengaja menabrak salah satu temannya yang sedang berjalan menuju ruangan yang telah ia datangi tadi.
“kenapa loh raa” tanya sadiah.
“enggak, maaf- gak sengaja” ucap Rara kemudia pergi tanpa permisi.
          Setelah sampai dikosan, tidak seperti biasanya setiap pulang kuliah Rara selalu menyapa semua penghuni kosan terutama teman- teman kesayangannya. Ia langsung masuk ke kamar. Didalam tak dapat ditahan lagi air mata yang sedari tadi ingin ia keluarkan menetes perlahan. Terlebih saat panggilan masuk kedua orang tuanya, Rara tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
“Halo, Assallamuallaikum” suara diseberang sana menyapa.
          Tak ada respon apapun dari Rara, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menjawabnya. Tetapi ia takut ibunya mendengar suaranya kali ini.
“Halo-halo-halo,Halo, kak, Halo...kenapa lagi hp ini” gerutu sang ibu disana. Ya sang ibu mengira jaringannya susah atau hp nya yang sedang error. Tak enak hati, setelah menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan diri Rara menjawab salam ibunya.
“Iyaa...Waallaikumsalam Wr.Wb”jawabnnya sejelas mungkin agar sang ibu tidak mengetahui keadaannya saat ini. Tapi itu hanya harapan Rara, perasaan seorang ibu yang selama ini begitu dengan dengan Rara membuatnya tidak bisa dibohongi oleh anak yang selama ini selalu jujur kepadanya.
“Kakak kenapa? Gimana hasil UAS nya? Udah diliat belum nilainya?” tanya ibunya penasaran.
“Iya udah tadi diliat, tapi KHS nya belum bisa diambil Cuma liat dari komputer aja....Tapii nilainyaa ada yang B lohhh” ungkapnya sambil terisakk.
“Kayaknya bukan Rara lagi yang tertinggi dikelas, teman Rara ada yang A semua,,,ada satu orang yang A semuanyaa...gak mau buu....gak rela kalau dia IP nya tinggi...padahal dia juga jarang aktif dikelas kenapa juga bisa dia lebih tinggi dari Rara...pasti itu karena dia dekat sama dosennya. Emang- emang dosen itu, katanya objektif tapi nyatanya subjektif.
          Kalau gak dekat sama dosen pasti nilainyaa gak akan dapet A” jelas Rara panjang lebar membela diri. Rara tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Apalagi sampai orang tuanya tau dia selama ini lebih mementingkan kegiatan daripada studi kuliahnya.
“emangnya IP nya berapa sekarang? Yang gede berapa?” tanya ibunya lagi.
“Cuma 3.92 siih...tapi temen ria itu 4.00” katanya kecewa.
“ya udah gak apa- apa, belajar lebih giat lagi. Udah- udah lagi ngikutin kegiatannya........ dikurangin kegiatannya, jangan menyepelekan kuliahnya. Ikut organisasi boleh, tapi jangan sampai kuliahnya terbengkalai. Ingat kak, menyesal itu hanya ada dibelakang” nasehat sang ibu. Iya tau perasaan anaknya saat ini. Beliau juga tau bahwa selama satu semester ini banyak perubahan di anak gadisnya. Terutama dibidang akademik.
“iyaa bu, gak lagi... semester depan udah gak ikutan organisasi lagi. Kan udah ganti jabatan juga, terus udah semester atas...sibuk sama tugas- tugas mau proposal” kata Rara pasti. Saat itu pula ia bertekat untuk lebih fokus lagi kepada kuliahnya dan mulai melangkah dari awal kembali menjadi mahasiswi yang berprestasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar