BERLINDUNG
DIBALIK FITRAH HATI
Dentuman
keras itu tiba-tiba terdengar lagi,, ini terjadi bukan karna ada bom nuklir
atau sejenisnya yang dapat meluluh lantahkan seisi bumi,, itu hanya karena
celetukan Syira yang tiba-tiba menyebut nama Azzam ditengah-tengah obrolan yang
sedang berlangsung diantara mereka bertiga yaitu para gadis aneh. Namun tepatnya hanya faiha lah yang merasakan
bahwa dentuman bak bom itu telah terjadi didalam hatinya yang membuat wajah gadis itu tiba-tiba merona
seperti orang yang sedang memakai blush on… kedua sahabat Faiha cekikikan melihat
perubahan rona wajah Faiha,,
***
Sementara fikiran
Faiha pergi jauh mengembara meninggalkan kedua sahabatnya yang sedang asyik
menertawakannya..
“terakhir kali aku melihatmu saat kelulusan ujian itu diumumkan tepatnya 2 tahun yang lalu,,sampai detik ini aku tak
tahu keberadaan mu dan dibelahan bumi manakah engkau tinggal?? Tak tahukah
engkau lima tahun sudah berlalu rasa ini hanya tetap tertuju padamu,, pada
pemilik satu wajah sederhana
yang hitam manis,dan tawa cerahmu,dan sorot mata sayu yang teduh milikmu,, yang
membuatku diam-diam jatuh hati…mungkin kau tak tahu dan takkan mungkin pernah
tahu atas perasaan yang kupunya...dan akupun cukup tahu diri memangnya apa yang
kupunya !! cantik pun tidak,aku juga bukan gadis yang berasal dari keluarga
kaya,dan aku pun tidak cerdas secerdas Aisyah ,,apa lagi untuk kategori sholeha
aku jelas tak termasuk kedalamnya,,aku hanya gadis biasa yang berani-beraninya
mengagumimu dalam diam,,tetapi siapa yang bisa memilih cinta,siapa yang bisa
memutuskan cinta harus ditanamkan dan kepada siapa cinta harus tumbuh ,,sebab
cinta adalah anugrah sekaligus fitrah dan yang kutahu jangan sampai berubah
menjadi fitnah,, Cintapun tak harus memiliki? kalau begitu
mencintaimu dalam diam pun sama sekali bukan masalah bagiku,meskipun disatu
sisi tentu menorehkan luka,karna pada nyatanya kau tidak mungkin mencintaiku,
untuk sekedar menyapa ku saja tak pernah..” dalam
hitungan detik bla-bla semua terlintas dalam fikiran Faiha dan lamunan itu
terpecahkan oleh Syira yang tiba-tiba menarik kentang goreng dari tangan Faiha
sambil cengengesan berusaha menggoda Faiha.
***
“Fa,,kau tahu tidak ??! azzam sekarang melanjutkan
pendidikannya di UI loh..dan kudengar ia pun ikut sebuah ikatan Ma’ahid Al Quran didaerah Jakarta sana,,aku dapat
informasi itu dari Rasyid sepupuku , Azzam sudah hafal empat juz alquran
katanya ,,” Senja menyambung pembicaraan dan seketika mata dan
wajah Faiha berbinar-binar untung silaunya tak merusak mata.
“ Subhanallah benarkahhh sen…?? Tapi bukannya setelah hari kelulusan sekolah kita ia tak
melanjutkan pendidikan tapi ia bekerja pada toko buku yang ada di Jakarta setahu ku. ku pikir ia
tidak mau melanjutkan pendidikannya ” Faiha berusaha memastikan bahwa
informasi yang disampaikan Senja benar adanya.
“Fa..Fa..Azzam itu kan pemuda cerdas,,di sekolah
kita dulu saja yang sering diutus mengikuti olimpiade fisika dan kimia pasti
dia bukan..hanya saja saat ia mendaftar SNMPTN dulu kurang beruntung,,dan
setahu ku karna Azzam tidak ada biaya juga,, jika langsung melanjutkan ke
perguruan tinggi,ia pun mensiasati diri dengan mencari kerja terlebih
dahulu,,dan sekarang ia mendaftar secara mandiri dan alhamdulilah diterima dan
mendapat beasiswa dikampusnya,,” begitulah
informasi yang disampaikan Senja sahabat karib Faiha yang sudah dua tahun tak bertemu
dengan Faiha dan Syira, maklumlah
sahabat Faiha yang satu ini memang melanjutkan pendidikannya cukup jauh di
negeri Jiran Malaysia.
“semakin
jauhlah aku dengan dirinya, bak pungguk
yang merindukan bulan dan akankah
suatu saat bulan yang akan merindukan
pungguk ”
Faiha mendramatisasikan keadaan.
“Fa...ingat tidak akan kisah Fatimah dan Ali Bin Abi Talib?
yang keduanya memendam apa yang
mereka rasakan hingga akhirnya Allah menyatukan mereka”
dengan gaya ala motivator yang handal Syira meyakinkan sahabatnya,,
***
Ditengah- tengah kerumunan manusia yang sedang menghadiri
acara reuni akbar SMA angkatan 2011, Faiha menangkap satu mata yang ditujukan
kearah dirinya, tatapan yang sampai detik ini
tak dapat dipecahkan dengan metode apapun, tentu
saja pemilik tatapan aneh itu adalah Azzam tapi lebih aneh lagi pemuda ini
hanya bisa menatap Faiha tapi tak pernah sedikitpun mengeluarkan kata-kata,
tiba- tiba
salah satu teman Azzam.....
“hai Faiha kemari sebentar ada yang menginginkan
berbicara padamu tapi dari dulu tak berani” temannya
terlihat sedang meledeki Azzam.
Azzam
pun sedikit geram dengan tingkah Zayid, karena ia mendadak malu ketika Faiha tahu yang
sesungguhnya. Faiha pun hanya membalas dengan senyum simpul.
“ah lihatlah Azzam ,Faiha itu sama pemalunya dengan
dirimu lalu jika kau dan dia sama-sama seperti ini siapa
yang akan memulai” protes Zayid pada Azzam.
“hei pelankan suara mu bisa saja Faiha mendengar” Azzam
berbisik pada sahabatnya.
Lalu
Zayid menarik tangan Azzam untuk mengajaknya menghampiri Faiha.
“Assalamualaikum Fai...ha” sapaan Azzam terdengar sangat kaku.
“Waalaikumsalam Azzam” untuk
beberapa menit pertama mereka terlihat menunjukkan gelagat salah tingkah dan
banyak diam.
Tidak Lama Kemudian Azzam memberanikan diri untuk membuka
percakapan mengenai hal-hal tentang dunia kampus, lama-lama suasanapun agak
sedikit mencair seiring dengan hal-hal yang mereka ceritakan bersama, namun
tetap saja cara yang mereka tunjukkan teramat kaku. Maklumlah setelah dua tahun
tidak bertemu tentu saja kecanggungan masih menghinggapi mereka belum lagi saat
tiga tahun bersama-sama satu kelas mereka tidak pernah bertegur sapa sama
sekali jadi situasi macam ini sangat wajar ketika terjadi. Setelah waktu hampir
menunjukkan pukul 03.00 sore mereka semua membubarkan diri dari acara reuni
yang digelar pada hari itu.
“Faiha, terimakasih sudah mau mengobrol dengan ku” Faiha
membalas dengan anggukan dan senyuman.
***
Aku tak ingin beranjak dari negeri dongeng, saat ini aku tak berminat hidup di realita yang
selalu menawarkan sejuta pahit getir kehidupan dan sepenuhnya
diri ini sadar bahwa fatamorgana akan tetap seperti itu adanya. Tatapan kosong
yang tak bermakna kudapat dari sorot mata yang tak lebih dari sedetik tak sengaja ku curi , menyiratkan
bahwa jauh didalam sana tak ada sedikitpun perasaan untukku.
MENYAKITKAN !!..... itulah
sebuah kenyataan yang harus ditelan seorang pengagum rahasia hanya kata
itu yang pantas disandang. Mungkin hal itu sangat berlebihan, bagi mereka yang tak pernah merasakan sakitnya
menjadi seorang admirer, tapi
kata setuju pasti
akan terlontar dari golongan para admirer. Dalam
sadar diri ini pasti akhirnya bertemu dengan kata menyakitkan terlebih saat mendengar kau tengah dekat
dengan seorang akhwat yang memang banyak kaum adam yang memujanya. Andai rasa bak sebuah kemudi sudah kuputar balik
agar tak lagi tertuju padamu. Ketika perpisahan memainkan perannya maka waktu
berkata seiring denganku rasa itu akan luntur , ketika ia memang bukanlah nama
yang tertulis di lauhul mahfuz-Nya.
***
“Rupanya acara reuni kemarin adalah hari
dimana pertama dan terakhir aku dan Azzam bercakap-cakap” Faiha
terlihat menunjukkan wajah yang muram ketika informasi tersebut ia dengar
dengan sangat jelas.
jika aku bisa meminta padamu bolehkah sekali saja aku terlihat penting di mata dan
dihatimu. aku sangat sadar betapa tak
tau dirinya aku !! ... namun mengingat jika semua ini hanya fatamorgana ,keadaan
apapun yang dihadapi adalah kesemuan yang cepat atau lambat akan sirna ketika
waktu demi waktu membawanya.
Meskipun rasa ini bertahun-tahun hinggap
dihati dan berharap akan berlabuh pada hatinya, jika Sang Maha Pemberi Segala
Rasa tidak mengizin kan untuk bersama, sebagai makhluk dhaif yang tidak tahu
apa yang ada dibalik keinginannya, hanya bisa mempasrahkan diri tak bisa mengelak semua yang terjadi. Jika
yang memberikan rasa ini adalah dari-Nya
maka lewat tangan-Nya pulalah rasa ini akan disirnakan, namun jika takdir
berkata bahwa aku adalah tulang rusuk-Nya
tidak ada satupun hal yang dapat mencegah kami bersatu.
Faiha mengikhlaskan rasanya dan melepaskan
kepada pemilik-Nya , untuk berlindung dibalik fitrah yang saat ini fitrah
itu sedang menguji keimanan gadis itu.
***selesai***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar