Senin, 19 Februari 2018

cerita tentang Gapaian Cita Cita Yang Tinggi


KECIL YANG MENJADI BESAR

Mahasiswa, siapa yang tidak tahu Mahasiswa, kata orang- orang Mahasiwa adalah Mahanya Para Siswa. Jadi semua akan bangga menjadi Mahasiswa. Di salah satu Universitas, terlihat seorang Mahasiswa sedang berjualan kacang dan minuman dilingkungan kampus. Mahasiswa itu tidak malu untuk menjajakan dagangannya sekalipun didepan teman seangkatannya.
“eh, Rahmat. Ngapain sih loe jualan kayak gitu,  Malu kali mahasiswa tapi jualan kacang. Hahahaa” tawa Joko melihat Rahmat berjualan.
Rahmat yang mendengar kata- kata Joko hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Joko dengan sejuta kekesalannya. Ya, Rahmat tidak pernah memperdulikan perkataan semua orang di Kampus tentang dirinya. Ia percaya, selama pekerjaannya ini masih Halal dan dijalan Allah SWT maka ia harus bertahan dan bersyukur.
Rahmat adalah Mahasiwa Bidik Misi. Ia tinggal bersama hanya dengan Ibu nya. Tragedi 2 tahun silam membuat ia dan ibu nya haru kehilangan sosok Ayah dan kakak yang sangat ia cintai. Oleh karena itu, untuk membantu ibu nya, Rahmat berinisiatif berjualan di Kampus. Ibu nya yang hanya bekerja sebagai tukang jahit bangga kepada Anak laki- lakinya ini. Sejak kepergian Ayahnya, Rahmat berubah menjadi sosok yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Ia mau menjadi Tulang Punggung keluarga untuk menghidupi dirinya dan Ibunya tercinta.
****
Universitas Negeri Adi Guna merupakan universitas terfavorit di Lampung. Hari ini kampus mengadakan Seminar Nasional dan mengundang seluruh universitas yang ada di Indonesia. Rahmat yang tahu, tidak mensia-siakan kesempatan ini. Ia membawa kacang dan minuman lebih banyak dari hari biasanya. Kemudia ia kembali menjajakan dagangannya di sekitar Gedung Serba Guna tempat dimana Seminar sedang berlangsung. Rahmat berharap dengan adanya acara kampus ini, dapat memberikan keuntungan yang lebih dari biasanya.
Setelah seminar selesai, banyak sekali yang keluar dari Gedung tersebut. Banyak pula yang menolak ketika di tawarkan minuman oleh Rahmat dengan Alasan telah mendapat minuman didalam.
Dari kejauhan, terlihat seorang Profesor sedang mengamati pemandangan langka didepannya saat ini. Pemandangan dimana Mahasiswa dengan wajah Tampan dengan rasa tidak malu sedang menarik minat semua orang untuk membeli dagangannya. Setelah dilihatnya, Rahmat duduk  di bawah pohon. Profesor itupun menghampiri Rahmat. Rahmat yang melihat profesor datang, tak bersemangat menawarkan minuman padanya. Rahmat berfikir, jika kedatangan profesor ini hanya untuk mematahkan semangatnya seperti dosen- dosen yang lain.
“mengapa tidak menawarkan ku juga” tanya profesor sembari duduk disamping Rahmat.
Rahmat kanget dan memandang wajah profesor yang sedang duduk di sampingnya. Rahmat tak menyangka jika profesor  berkata seperti itu. Dipikirannya saat ini, apakah profesor hanya mengoloknya atau benar- benar ingin membeli dagangannya.
“saya haus, bolehlah saya beli minuman ini” kata profesor sambil menunjukan minuman yang dia inginkan. Rahmat yang masih tak menyangka dengan yang ia dengar, dengan tangan gemetaran memberikan minumannya ke Guru Besar di Kampus tersebut.
Profesor yang tahu, tiba- tiba tertawa dan membuat cair suasana yang ada. Profesorpun bercerita bagaimana ia bisa menjadi Guru Besar di Universitas terkenal ini. Ternyata profesor dahulunya sama seperti Rahmat, mendapatkan uang dari hasil dagang di kampus. Yang membedakanya adalah waktu dan barang dagangannya.
“kalau sekarangg kau dagang kacang, dahulu saya dagang kerupuk” kata profesor dengan logat Batak yang menjadi ciri khasnya.
Kemudian secara bersama mereka tertawa. Memandang dan mengingat kejadian yang serupa. Setelah profesor bercerita, membuat Rahmat semakin bersemangat dalam bekerja dan menuntut ilmu. Profesor menyadarkannya bahwa orang tidak akan menjadi besar jika tidak melalui proses dari yang Kecil. Itulah yang Rahmat rasakan sekarang, mungkin ia dipandang kecil oleh teman- temannya saat ini. Tetapi ia bertekat dengan masuknnya dia sebagai Mahasiswa Bidik Misi akan mengubah padangan temannya suatu saat nanti. Rahmatpu bercita- cita akan menjadi Guru Besar seperti Profesor Arga yang ada disampingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar