Senin, 19 Februari 2018

Cerpen "Prinsip Hidup Berwarna"


PRINSIP COLOUR FULL

          Tia dan Nia merupakan gadis cantik yang selalu bersama disetiap kesempatan dan kegiatan. Dimanapun dan kapanpun, Tia dan Nia selalu berusaha untuk menjalani aktifitas bersama. Tia dan Nia mulai dekat ketika mereka berdua bertemu disebuah forum remaja yang menjadikan mereka dekat sehingga semua berpikir jika mereka telah dekat dari dahulunya.  Kedekatan Tia dan Nia membuat semua orang iri melihatnya karena mereka selalu terlihat kompak walaupun mereka memiliki gaya yang berbeda- beda. Tia yang terlihat elegan dengan tampilan busana yang menutupinya secara keseluruhan dan Nia yang cantik bak model yang selalu berpenampilan sesuai trend zaman.
          Pertemanan Tia dan Nia sangatlah harmonis. Walaupun banyak yang tidak suka jika Tia berteman dekat dengan Nia. Bukan karena Nia terlalu cantik sebagai primadona kampus. Tetapi karena teman- teman mengangap Nia akan membawa dampak tidak baik bagi Tia. Pasalnya Nia yang gaul dan tidak pernah mencerminkan layaknya muslimah membuat semua orang takut jika nanti pada ahirnya Tia ikut menjadi seperti Nia.
          Seperti sore hari ini. Walaupun sering bersama Tia dan Nia tidaklah tinggal bersama, rumah mereka berbeda arah, Tia di Utara dan Nia di Barat. Setelah seharian bersama Nia, Tia pulang kerumahnya. Sesampainya Tia dirumah, ia disambut oleh mbak dan kakak tercintanya yang sedari tadi sedang membicarakannya. Tia yang tahu bahwa ia sedang dibicarakan oleh kedua kakaknya tidak langsung ambil hati. Ya... Tia adalah gadis yang ceria dan polos sehingga apapun yang dikatakan oleh semua orang ia tak pernah memperdulikan terlebih jika mereka tidak berpengaruh dihidupnya. Berbeda dengan kedua orang tuanya, yang selalu ia percaya dan ia dengarkan semua nasehatnya.
“habis kemana aja seharian, sekalian aja gak usah pulang” kata mbaknya tanpa basa- basi saat Tia ikut gabung bersama kakanya.
“iya,  sekarang udah sering kelayapan kemana- mana” tambah kakaknya.
“abis nemenin Nia beli perlengkapan kosmetiknya tadi di chandra ya sekalian jalan- jalan dikit ngeliat buku bacaan juga disana” jawab Tia jujur, berharap kakak dan mbaknya tidak menceramahinya sore ini.
“perasaan tiap hari nemenin terus, penting gak penting kamu ini ngikutin dia” ungkap mbaknya tak suka.
“pasti gak sholat ashar kan tadi, udah sana sholat dulu. Gak usah bohong, zhuhur aja mungkin tertinggal. Bukan tertinggal tapi gak dilaksanakan. Keasikan sama urusan dunia” tambah kakaknya.
          Tia yang menyadari itu tak bisa lagi berkutik dan menjawabnnya. Ia langsung pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun kepada kakaknya.
          Tia menuju kamarnya untuk mandi dan melaksanakan sholat ashar. Dilihatnya tadi jam masih menunjukan jam 16.45, masih ada waktu untuk sholat ashar pikirnya. Setelah ia melaksanakan sholat ashar ia tidak langsung kembali keruangan dimana kakak dan mbaknya berada. Ia lebih memilih untuk tetap ada dikamar karena ia tidak ingin kakak dan mbaknya membicarakan Nia lagi.
          1 jam lebih Tia tidak keluar dari kamarnya, membuat kedua kakaknya heran dan bertanya- tanya mengapa ia tidak juga keluar. Sehingga kakakya memutuskan untuk melihat apa yang sedang adiknya kerjakan dikamar.
          Tok..Tok...Tok ...terdengar suara pintu dari luar kamar Tia.
“pasti nih Kepo” pikir Tia yang kemudian mau tidak mau membukakan pintu dan mempersilahkan kakaknya menasehatinya abis- abisan malam ini. Ya karena ketika kakaknya bisa masuk kekamarnya pastinya itu pertanda buruk untuk Tia, Tia harus mendengarkan semua hal yang tak disukai kakaknya terhadap teman dekatnya Nia.
“mau sampai kapan kamu seperti ini Tia” tanya kakaknya sebagai awal percakapan malam ini.
“kamu mau menggadaikan agama mu untuk urusan dunia yang tidak bisa menolongmu” ujar kakaknya lebih lanjut.
“tapi gimana kak, Tia gak enak sama Nia, Nia terlanjur baik sama Tia. Gak setiap saat kok Tia ninggalin sholat. Gak tiap saat juga Tia bersama Nia. Kalau pas Nia gak ada, Tia diam- diam sholat di masjid. Tia gak enak kak, kalau mau sholat disana. Nianya aja gak sholat, Masa Tia langsung sholat aja. Lagipula dikamar Nia gak ada mukenah kakak. Tia gak mau dibilang sok alim. Bukannya mbak pernah bilang kalau kita berteman dengan preman kita harus bisa nyeimbangin lingkungan preman itu, agar kita tidak menjadi korban preman tersebut. Ya begitu juga yang sedang Tia alami sekarang.” jelas Tia Jujur dan berlinang air mata setiap kali kakaknya menasehatinya seperti ini. Ia merasa bahwa ia tidak salah dan keadaanlah yang memaksakannya.
          Seketika kakaknya langsung memeluknya dan mengusap lembut rambut adiknya yang masih basah karena habis keramas sore tadi “ iya sayang, kakak tau gimana perasaan mu dek. Tapi yang dimaksud mbak bukan seperti ini. Tia boleh bergaul dengan preman atau pencuri sekalipun. Tetapi ingat baik- baik, Tia tidak boleh ikut- ikutan semua yang dilakukan preman dan pencuri tersebut. Tia gak boleh ikut mencuri seperti preman itu. Tia kan tahu, bahwa itu tindakan dilarang Allah SWT dan tidak baik dalam Agama kita sayang”.
“susah kak, Tia gak tau harus gimana” ucap Tia bingung dengan keadaannya saat ini.
“dengerin kakak ya sayang, Tia harus punya prinsip dalam hidup Tia. Tia gak boleh jadi kapal kecil yang mudah terombang ambing di tengah lautan lepas.” pesan kakaknya yang kemudian lekas beranjak pergi setelah mencium kening adiknya.
          Usai kakaknya pergi, Tia berfikir tentang ungkapan kakaknya tadi. Setelah ia berfikir lama, Tia bertekad bahwa mulai besok ia harus memiliki prinsip yang kuat agar ia menjadi kapal yang kuat dan tangguh. Tia berniat mulai besok juga dia tidak akan sholat sembunyi- sembunyi dibelakang Nia. Tia akan mengajak Nia untuk mengikutinya, bukan seperti yang selama ini terjadi yaitu Tia yang mengikuti Nia. Tapi Harus Nia yang Mengikuti Tia karena Tia berfikir pasti Nia akan mau mengikutinya. Dalam hati, Tia bertekad bahwa ia harus masuk syurga bersama sahabatnya Nia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar