PRINSIP COLOUR FULL
Tia
dan Nia merupakan gadis cantik yang selalu bersama disetiap kesempatan dan
kegiatan. Dimanapun dan kapanpun, Tia dan Nia selalu berusaha untuk menjalani
aktifitas bersama. Tia dan Nia mulai dekat ketika mereka berdua bertemu
disebuah forum remaja yang menjadikan mereka dekat sehingga semua berpikir jika
mereka telah dekat dari dahulunya. Kedekatan
Tia dan Nia membuat semua orang iri melihatnya karena mereka selalu terlihat
kompak walaupun mereka memiliki gaya yang berbeda- beda. Tia yang terlihat
elegan dengan tampilan busana yang menutupinya secara keseluruhan dan Nia yang cantik
bak model yang selalu berpenampilan sesuai trend zaman.
Pertemanan
Tia dan Nia sangatlah harmonis. Walaupun banyak yang tidak suka jika Tia berteman
dekat dengan Nia. Bukan karena Nia terlalu cantik sebagai primadona kampus.
Tetapi karena teman- teman mengangap Nia akan membawa dampak tidak baik bagi Tia.
Pasalnya Nia yang gaul dan tidak pernah mencerminkan layaknya muslimah membuat
semua orang takut jika nanti pada ahirnya Tia ikut menjadi seperti Nia.
Seperti
sore hari ini. Walaupun sering bersama Tia dan Nia tidaklah tinggal bersama,
rumah mereka berbeda arah, Tia di Utara dan Nia di Barat. Setelah seharian
bersama Nia, Tia pulang kerumahnya. Sesampainya Tia dirumah, ia disambut oleh
mbak dan kakak tercintanya yang sedari tadi sedang membicarakannya. Tia yang
tahu bahwa ia sedang dibicarakan oleh kedua kakaknya tidak langsung ambil hati.
Ya... Tia adalah gadis yang ceria dan polos sehingga apapun yang dikatakan oleh
semua orang ia tak pernah memperdulikan terlebih jika mereka tidak berpengaruh
dihidupnya. Berbeda dengan kedua orang tuanya, yang selalu ia percaya dan ia dengarkan
semua nasehatnya.
“habis kemana aja seharian, sekalian
aja gak usah pulang” kata mbaknya tanpa basa- basi saat Tia ikut gabung bersama
kakanya.
“iya,
sekarang udah sering kelayapan kemana- mana” tambah kakaknya.
“abis nemenin Nia beli perlengkapan
kosmetiknya tadi di chandra ya sekalian jalan- jalan dikit ngeliat buku bacaan
juga disana” jawab Tia jujur, berharap kakak dan mbaknya tidak menceramahinya
sore ini.
“perasaan tiap hari nemenin terus,
penting gak penting kamu ini ngikutin dia” ungkap mbaknya tak suka.
“pasti gak sholat ashar kan tadi, udah
sana sholat dulu. Gak usah bohong, zhuhur aja mungkin tertinggal. Bukan
tertinggal tapi gak dilaksanakan. Keasikan sama urusan dunia” tambah kakaknya.
Tia
yang menyadari itu tak bisa lagi berkutik dan menjawabnnya. Ia langsung pergi
tanpa meninggalkan sepatah katapun kepada kakaknya.
Tia
menuju kamarnya untuk mandi dan melaksanakan sholat ashar. Dilihatnya tadi jam
masih menunjukan jam 16.45, masih ada waktu untuk sholat ashar pikirnya.
Setelah ia melaksanakan sholat ashar ia tidak langsung kembali keruangan dimana
kakak dan mbaknya berada. Ia lebih memilih untuk tetap ada dikamar karena ia
tidak ingin kakak dan mbaknya membicarakan Nia lagi.
1
jam lebih Tia tidak keluar dari kamarnya, membuat kedua kakaknya heran dan
bertanya- tanya mengapa ia tidak juga keluar. Sehingga kakakya memutuskan untuk
melihat apa yang sedang adiknya kerjakan dikamar.
Tok..Tok...Tok
...terdengar suara pintu dari luar kamar Tia.
“pasti nih Kepo” pikir Tia yang kemudian
mau tidak mau membukakan pintu dan mempersilahkan kakaknya menasehatinya abis-
abisan malam ini. Ya karena ketika kakaknya bisa masuk kekamarnya pastinya itu
pertanda buruk untuk Tia, Tia harus mendengarkan semua hal yang tak disukai
kakaknya terhadap teman dekatnya Nia.
“mau sampai kapan kamu seperti ini Tia”
tanya kakaknya sebagai awal percakapan malam ini.
“kamu mau menggadaikan agama mu untuk
urusan dunia yang tidak bisa menolongmu” ujar kakaknya lebih lanjut.
“tapi gimana kak, Tia gak enak sama
Nia, Nia terlanjur baik sama Tia. Gak setiap saat kok Tia ninggalin sholat. Gak
tiap saat juga Tia bersama Nia. Kalau pas Nia gak ada, Tia diam- diam sholat di
masjid. Tia gak enak kak, kalau mau sholat disana. Nianya aja gak sholat, Masa
Tia langsung sholat aja. Lagipula dikamar Nia gak ada mukenah kakak. Tia gak
mau dibilang sok alim. Bukannya mbak pernah bilang kalau kita berteman dengan
preman kita harus bisa nyeimbangin lingkungan preman itu, agar kita tidak
menjadi korban preman tersebut. Ya begitu juga yang sedang Tia alami sekarang.”
jelas Tia Jujur dan berlinang air mata setiap kali kakaknya menasehatinya
seperti ini. Ia merasa bahwa ia tidak salah dan keadaanlah yang memaksakannya.
Seketika
kakaknya langsung memeluknya dan mengusap lembut rambut adiknya yang masih
basah karena habis keramas sore tadi “ iya sayang, kakak tau gimana perasaan mu
dek. Tapi yang dimaksud mbak bukan seperti ini. Tia boleh bergaul dengan preman
atau pencuri sekalipun. Tetapi ingat baik- baik, Tia tidak boleh ikut- ikutan
semua yang dilakukan preman dan pencuri tersebut. Tia gak boleh ikut mencuri
seperti preman itu. Tia kan tahu, bahwa itu tindakan dilarang Allah SWT dan tidak
baik dalam Agama kita sayang”.
“susah kak, Tia gak tau harus gimana”
ucap Tia bingung dengan keadaannya saat ini.
“dengerin kakak ya sayang, Tia harus
punya prinsip dalam hidup Tia. Tia gak boleh jadi kapal kecil yang mudah
terombang ambing di tengah lautan lepas.” pesan kakaknya yang kemudian lekas
beranjak pergi setelah mencium kening adiknya.
Usai
kakaknya pergi, Tia berfikir tentang ungkapan kakaknya tadi. Setelah ia
berfikir lama, Tia bertekad bahwa mulai besok ia harus memiliki prinsip yang
kuat agar ia menjadi kapal yang kuat dan tangguh. Tia berniat mulai besok juga
dia tidak akan sholat sembunyi- sembunyi dibelakang Nia. Tia akan mengajak Nia
untuk mengikutinya, bukan seperti yang selama ini terjadi yaitu Tia yang
mengikuti Nia. Tapi Harus Nia yang Mengikuti Tia karena Tia berfikir pasti Nia
akan mau mengikutinya. Dalam hati, Tia bertekad bahwa ia harus masuk syurga
bersama sahabatnya Nia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar