RASA ITU NYATA
Sepenggal lirik melodi yang menarik
saat tak sengaja aku mendengar lagu yang diputar oleh tetanggaku yang berjudul
Hanya Tuhan Yang Tahu
kupendamkan perasaan ini
kurahasiakan rasa hati ini
melindungkan kasih yang berputik
tersembunyi didasar hati.
ku pohonkan petunjuk Ilahi hadirkanlah
insan yang sejati
menemani kesepian ini
mendamaikan sekeping hati
Oh..Tuhanku berikanlah ketenangan abadi
untuk ku menghadapi
Resahnya hati ini mendambakan kasih
insan yang kusayang
Dihati ini hanya Tuhan yan tahu
Alunan lagu itu berhasil mencuri
perhatianku sehingga aku terus terhanyut mendengar kalimat demi kalimat hingga selesai. Akupun tersadar bahwa telah
melupakan sesuatu?!!.
“Tugas kuliah! aduhh
!!! bagaimana ini jangan-jangan mati lampu lagi mana belum ku save.” sambil menepuk
dahi.
Aku setengah berlari buru-buru menuju
meja belajar. Huft lega
rasanya, kupikir mati lampu. Jariku kembali ketak-ketok pada tombol keyboard
komputer. Aku
membuka e-mail
untuk mengambil materi yang diberikan oleh dosen tempo hari. Kemudian ku lihat
ternyata ada surat untukku dan pengirimnya
sosok yang tak ku sangka. Aku mengenalnya, dia kak Hardi “assalamualaikum,,afwan
ukh..jika menggangu waktunya apa kabar
..?” cuplikan isi dari surat itu. Aku
terenyuh tak percaya menerimanya, ku
teruskan membaca surat itu sampai titik terujung. Aku tak langsung membalasnya karna aku
sedang berusaha mengendalikan hatiku yang terlampau bahagia. Segera ku ingat la taghtar (jangan
terlena) lahawlawala quwata illa billah
ku teruskan sambil beristighfar. Segera
kututup komputer itu dan ku tunda untuk membalasnya.
***
Aku menjadi teringat kejadian satu
tahun yang lalu saat aku mulai menjejakkan diri di semester 5 aku cukup
mengenal kak Hardi. pernah
beberapa kali aku bertukar email dengannya namun hanya dalam rangka untuk
membahas seputar kepentingan tugas organisasi, kak Hardi memang tidak suka
basa-basi tapi ia bukan sosok yang angkuh, aku tahu kenapa dia bersikap demikian
karna ia ingin menjaga diri dari dosa.
Setelah ia wisuda, ku
dengar ia sibuk dengan kegiatan,
yang sedang gencar- gencarnya
ia lakukan untuk melanjutkan pendidikan S2. Aku tau kabar berita itu dari
mahasiswa- mahasiswa
yang ada dikampus yang tengah berbincang-bincang tentang kak Hardi.
Jauh sebelum aku
mengenalnya, aku kerap mendengar bahwa ia sosok yang amat baik hati. Pertama kali aku mengenalnya,
sejak kami dipersatukan dalam sebuah kegiatan persiapan LCT yang ada dikampus. Waktu
itu Pembina organisasi Himpunan
Mahasiswa, bu
Rusma menugaskan aku dan kak Hardi untuk mengurus soal- soal yang akan disajikan pada saat
perlombaan akan dilaksanakan.
Sosok kak Hardi memang ku akui ia seorang mahasiswa yang religius,
cerdas, ulet dan selalu rendah hati terhadap sesamanya namun memiliki sikap
dingin dengan lawan jenis. Tetapi ia
selalu welcome terhadap siapapun partnernya dalam belajar. Kembali memori ku
memutar rekam kejadian masa lampau. Saat
itu aku dan dia meskipun menjadi satu tim, tapi interaksi kami sangatlah kaku, kami
tidak pernah berbincang- bincang
lebih dekat seperti yang dilakukan oleh
orang-orang pada umumnya, obrolan
kami hanyalah tentang cara membuat soal dan literatur buku apa saja yang harus
kami kumpulkan untuk dijadikan sebagai patokan dalam membuat soal.
Beberapa bulan kami berdua bertukar e-mail dan selalu terlihat jalan bersama,
baik itu ke perpustakaan ataupun datang ke Komisariat yaitu tempat dimana perkumpulan para
anak-anak HIMA melakukan
aktivitas organisasinya baik untuk bermusyawarah atau membahas hal- hal yang berkaitan dengan organisasi.
Secara kasat mata aku dan kak Hardi terlihat
sangat akrab, namun kenyataannya berkebalikan.
Tepat dihari ini awal September, untuk
pertama kalinya ia mengirimku sebuah surat yang isinya bukan tentang trigonometri
atau yang sejenisnya. Ia
menanyakan tentang kabarku, pure tentang kabarku....
Aku membuka surat itu dan membacanya
lagi, ku putuskan
untuk membalasnya. Aku
berfikir sejenak jangan sampai aku salah jawab, bisa-bisa kak Hardi berfikir yang
tidak-tidak, lalu jemari ku satu persatu menyentuh tombol huruf untuk merangkai menjadi sebuah kalimat untuk
membalas pesannya. Aku membalas hanya sekedarnya saja lalu aku
bertanya kembali bagaimana kabar dirinya. Ia pun langsung membalas pesanku, rupanya ia tengah membuka e-mail juga, kamipun berbalas pesan hingga pada
akhirnya kak Hardipun meminta nomor handphone ku, aku kembali kaget bukan
kepalang untuk apa ia meminta nomor ku tapi aku tidak boleh suudzon bisa saja
karna ia memiliki keperluan dan ingin meminta bantuan ku, mungkin itu
alasannya. Segera
kukirim nomorku, ia pun membalas.
“ukh,
jika saya ingin sekedar berdiskusi tentang kehidupan dengan ukhti apakah
diperkenankan?” dengan
sopan dan terkesan sedikit kaku ia meminta izin ku.
“Ketika hal tersebut memanglah sesuatu
yang penting selagi itu tidak mengandung mudharat bagi saya dan kakak ,saya
rasa tidak masalah” kemudian
ku klik tombol enter untuk mengirim balasan tersebut.
“ Ya....terimakasih banyak Ukhti”
***
Keesokan harinya kulihat lima kali pangggilan tidak terjawab, dan itu
nomor baru. Aku
berfikir mungkin ini kak Hardi, ku kirim pesan untuk bertanya siapa pemilik
nomor ini dan
benar saja itu kak Hardi, ia pun langsung menelepon ku. Banyak percakapan yang terjadi saat ia
menelepon, iapun mengutarakan bahwa ia ingin bertemu dengan ku. Kami membuat janji bahwa hari Sabtu tepat jam 09.00 pagi kami bertemu
di sebuah toko buku yang ada di daerah
Pringsewu.
Tepat jam 09.00 WIB aku datang ditempat
yang telah dijanjikan. Mataku mencari sosok kak Hardi sambil menengokkan
kepala ku ke kiri dan ke kanan ,pertanyaanpun berkecamuk dihati ku, ada apa kak
Hardi ingin bertemu dengan ku ? apakah ada sesuatu hal yang amat penting?
hingga ia memanggil ku.
Dari arah belakang tiba –tiba terdengar
ucapan salam yang ditujukan pada ku ,aku mengenal suara itu, suara yang lembut
dan berwibawa itu milik kak Hardi, spontan aku membalikkan badan dan menjawab
salamnya, tak sengaja mata kami bertatapan. Aku
langsung tertunduk, sepertinya iapun melakukan hal yang sama. Aku tidak tahu
kenapa saat aku berhadapan dengan kak Hardi sejak dahulu hingga sekarang aku
mendadak malu dan tidak bisa menjelaskan apa yang ada dihatiku..
Lalu kak Hardi memulai pembicaraan untuk memecah kesunyian, karna
beberapa detik kami saling diam.
“sudah lama ya menunggunya”….“tidak
juga kak, saya pun baru sampai” kak Hardi pun mengajak ku berbincang-bincang sambil mencari
buku dideretan rak- rak
yang ada didalam toko buku tersebut sekitar 20 menit kami mengobrol sambil
mencari buku, tiba-tiba kak Hardi mengutarakan niatnya ia ingin menemui
orangtua ku untuk bertemu dan membicarakan hal yang penting. Aku langsung menerka akankah kak Hardi
melamarku tapi aku baru saja lulus dua bulan yang lalu rasanya ketika ada
lamaran aku belum siap sepenuhnya.
“Ana aku
tidak mau menjalin suatu hubungan tanpa ridha- Nya, aku harap kau memikirkan baik- baik apa yang kusampaikan dan sekali lagi ku
katakan nanti malam aku ingin menemui kedua orangtua mu” ucapannya kepada ku terdengar serius.
Aku terdiam aku tidak tahu kenapa lidah
ku tiba- tiba
kelu dan tak bisa bicara seolah- olah
ada sesuatu gerakan yang membuatku hanya sekedar menjawab dengan anggukan saja.
“Alhamdulilah
semoga orangtua mu berkenan atas niat yang kupunya” setelah itu kak Hardi mengajak ku
pulang dan ia mengambilkan satu buku dan segera membayarnya dikasir. Buku itu berjudul Mahligai Syurga Dalam
Sebuah Pernikahan dan
ia memberikannya padaku sebagai suatu hadiah. Aku mengambilnya dan mengucapkan
terimakasih.
***
Dua bulan kemudian…
Aku dan kak Hardi pun menapaki gerbang yang disebut orang
pernikahan. Aku
tidak menyangka ternyata sosok yang selama ini sangat dingin terhadap wanita
terlebih padaku, sedari
dulu ia pun
ternyata menyimpan sebuah rasa pada ku dan alhamdulilah Allahpun mengizinkan
kami berdua untuk membina mahligai dibawah naungan-Nya. Meskipun
saat itu aku sejujurnya belum siap namun dihatiku yang paling dalam tidak ada
satu keraguan sedikitpun untuk hidup bersama kak Hardi.
Jodoh terkadang datangnya tiba-tiba
tanpa kita rencanakan terlebih dahulu namun itulah kehendak Ilahi sebagai
manusia kita hanya bisa menerimanya dengan penuh keihklasan dan kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar