Senin, 19 Februari 2018

cerita tentang cinta yang nyata


RASA ITU NYATA


Sepenggal lirik melodi yang menarik saat tak sengaja aku mendengar lagu yang diputar oleh tetanggaku yang berjudul Hanya Tuhan Yang Tahu
kupendamkan perasaan ini
kurahasiakan rasa hati ini
melindungkan kasih yang berputik tersembunyi didasar hati.
ku pohonkan petunjuk Ilahi hadirkanlah insan yang sejati
 menemani kesepian ini
mendamaikan sekeping hati
Oh..Tuhanku berikanlah ketenangan abadi untuk ku menghadapi
Resahnya hati ini mendambakan kasih insan yang kusayang
Dihati ini hanya Tuhan yan tahu

Alunan lagu itu berhasil mencuri perhatianku sehingga aku terus terhanyut mendengar   kalimat demi kalimat hingga selesai. Akupun tersadar bahwa telah melupakan sesuatu?!!.
“Tugas  kuliah! aduhh !!! bagaimana ini jangan-jangan mati lampu lagi mana belum ku save.” sambil menepuk dahi.
Aku setengah berlari buru-buru menuju meja belajar. Huft lega rasanya, kupikir mati lampu. Jariku kembali ketak-ketok pada tombol keyboard komputer. Aku membuka e-mail untuk mengambil materi yang diberikan oleh dosen tempo hari. Kemudian ku lihat ternyata ada surat  untukku dan pengirimnya sosok yang tak ku sangka. Aku  mengenalnya, dia kak Hardi “assalamualaikum,,afwan ukh..jika menggangu waktunya apa  kabar ..?” cuplikan isi dari surat itu. Aku terenyuh tak percaya menerimanya, ku teruskan membaca surat itu sampai titik terujung. Aku tak langsung membalasnya karna aku sedang berusaha mengendalikan hatiku yang terlampau bahagia. Segera ku ingat la taghtar (jangan terlena) lahawlawala quwata illa billah ku teruskan sambil beristighfar. Segera kututup komputer itu dan ku tunda untuk membalasnya.
***
Aku menjadi teringat kejadian satu tahun yang lalu saat aku mulai menjejakkan diri di semester 5 aku cukup mengenal kak Hardi. pernah beberapa kali aku bertukar email dengannya namun hanya dalam rangka untuk membahas seputar kepentingan tugas organisasi, kak Hardi memang tidak suka basa-basi tapi ia bukan sosok yang angkuh, aku tahu kenapa dia bersikap demikian karna ia ingin menjaga diri dari dosa.  Setelah ia wisuda, ku dengar ia sibuk dengan kegiatan, yang sedang gencar- gencarnya ia lakukan untuk melanjutkan pendidikan S2. Aku tau kabar berita itu dari mahasiswa- mahasiswa yang ada dikampus yang tengah berbincang-bincang tentang kak Hardi.
Jauh sebelum aku mengenalnya, aku kerap mendengar  bahwa ia sosok yang amat baik hati. Pertama kali aku mengenalnya, sejak kami dipersatukan dalam sebuah kegiatan persiapan LCT yang ada dikampus. Waktu  itu Pembina organisasi Himpunan Mahasiswa, bu Rusma menugaskan aku dan kak Hardi untuk mengurus soal- soal yang akan disajikan pada saat perlombaan akan dilaksanakan.
Sosok kak Hardi memang ku akui ia seorang mahasiswa yang  religius, cerdas, ulet dan selalu rendah hati terhadap sesamanya namun memiliki sikap dingin dengan lawan jenis. Tetapi ia selalu welcome terhadap siapapun partnernya dalam belajar. Kembali memori ku memutar rekam kejadian masa lampau. Saat itu aku dan dia meskipun menjadi satu tim, tapi interaksi kami sangatlah kaku, kami tidak pernah berbincang- bincang lebih dekat  seperti yang dilakukan oleh orang-orang pada umumnya, obrolan kami hanyalah tentang cara membuat soal dan literatur buku apa saja yang harus kami kumpulkan untuk dijadikan sebagai patokan dalam membuat soal.
Beberapa bulan kami berdua bertukar e-mail dan selalu terlihat jalan bersama, baik itu ke perpustakaan ataupun datang ke Komisariat yaitu tempat dimana perkumpulan para anak-anak HIMA melakukan aktivitas organisasinya baik untuk bermusyawarah atau membahas hal- hal yang berkaitan dengan organisasi.  
Secara kasat mata aku dan kak Hardi terlihat sangat akrab, namun kenyataannya berkebalikan.
Tepat dihari ini awal September, untuk pertama kalinya ia mengirimku sebuah surat yang isinya bukan tentang trigonometri atau yang sejenisnya. Ia menanyakan tentang kabarku, pure tentang kabarku....
Aku membuka surat itu dan membacanya lagi, ku putuskan untuk membalasnya. Aku berfikir sejenak jangan sampai aku salah jawab, bisa-bisa kak Hardi berfikir yang tidak-tidak, lalu jemari ku satu persatu menyentuh tombol huruf  untuk merangkai menjadi sebuah kalimat untuk membalas pesannya. Aku membalas hanya sekedarnya saja lalu aku bertanya kembali bagaimana kabar dirinya. Ia pun langsung membalas pesanku, rupanya ia tengah membuka e-mail juga, kamipun berbalas pesan hingga pada akhirnya kak Hardipun meminta nomor handphone ku, aku kembali kaget bukan kepalang untuk apa ia meminta nomor ku tapi aku tidak boleh suudzon bisa saja karna ia memiliki keperluan dan ingin meminta bantuan ku, mungkin itu alasannya. Segera kukirim nomorku, ia pun membalas.
ukh, jika saya ingin sekedar berdiskusi tentang kehidupan dengan ukhti apakah diperkenankan?” dengan sopan dan terkesan sedikit kaku ia meminta izin ku.
“Ketika hal tersebut memanglah sesuatu yang penting selagi itu tidak mengandung mudharat bagi saya dan kakak ,saya rasa tidak masalah” kemudian ku klik tombol enter untuk mengirim balasan tersebut.
“ Ya....terimakasih banyak Ukhti”
***
Keesokan harinya kulihat lima kali pangggilan tidak terjawab, dan itu nomor baru. Aku berfikir mungkin ini kak Hardi, ku kirim pesan untuk bertanya siapa pemilik nomor ini dan benar saja itu kak Hardi, ia pun langsung menelepon ku. Banyak percakapan yang terjadi saat ia menelepon, iapun mengutarakan bahwa ia ingin bertemu dengan ku. Kami membuat janji bahwa hari Sabtu tepat jam 09.00 pagi kami bertemu di sebuah toko buku yang ada di daerah Pringsewu.
Tepat jam 09.00 WIB aku datang ditempat yang telah dijanjikan. Mataku  mencari sosok kak Hardi sambil menengokkan kepala ku ke kiri dan ke kanan ,pertanyaanpun berkecamuk dihati ku, ada apa kak Hardi ingin bertemu dengan ku ? apakah ada sesuatu hal yang amat penting? hingga ia memanggil ku.
Dari arah belakang tiba –tiba terdengar ucapan salam yang ditujukan pada ku ,aku mengenal suara itu, suara yang lembut dan berwibawa itu milik kak Hardi, spontan aku membalikkan badan dan menjawab salamnya, tak sengaja mata kami bertatapan. Aku langsung tertunduk, sepertinya iapun melakukan hal yang sama. Aku tidak tahu kenapa saat aku berhadapan dengan kak Hardi sejak dahulu hingga sekarang aku mendadak malu dan tidak bisa menjelaskan apa yang ada dihatiku..
Lalu kak Hardi memulai  pembicaraan untuk memecah kesunyian, karna beberapa detik kami saling diam.
“sudah lama ya menunggunya”.“tidak juga kak, saya pun baru sampai” kak Hardi pun mengajak ku berbincang-bincang sambil mencari buku dideretan rak- rak yang ada didalam toko buku tersebut sekitar 20 menit kami mengobrol sambil mencari buku, tiba-tiba kak Hardi mengutarakan niatnya ia ingin menemui orangtua ku untuk bertemu dan membicarakan hal yang penting. Aku langsung menerka akankah kak Hardi melamarku tapi aku baru saja lulus dua bulan yang lalu rasanya ketika ada lamaran aku belum siap sepenuhnya.
“Ana aku tidak mau menjalin suatu hubungan tanpa ridha- Nya, aku harap kau memikirkan baik- baik apa yang kusampaikan dan sekali lagi ku katakan nanti malam aku ingin menemui kedua orangtua mu” ucapannya kepada ku terdengar serius.
Aku terdiam aku tidak tahu kenapa lidah ku tiba- tiba kelu dan tak bisa bicara seolah- olah ada sesuatu gerakan yang membuatku hanya sekedar menjawab dengan anggukan saja.
“Alhamdulilah semoga orangtua mu berkenan atas niat yang kupunya” setelah itu kak Hardi mengajak ku pulang dan ia mengambilkan satu buku dan segera membayarnya dikasir. Buku itu berjudul Mahligai Syurga Dalam Sebuah Pernikahan dan ia memberikannya padaku sebagai suatu hadiah. Aku mengambilnya dan mengucapkan terimakasih.
***
Dua bulan kemudian…
Aku dan kak Hardi pun menapaki gerbang yang disebut orang pernikahan. Aku tidak menyangka ternyata sosok yang selama ini sangat dingin terhadap wanita terlebih padaku, sedari dulu ia pun ternyata menyimpan sebuah rasa pada ku dan alhamdulilah Allahpun mengizinkan kami berdua untuk membina mahligai dibawah naungan-Nya. Meskipun saat itu aku sejujurnya belum siap namun dihatiku yang paling dalam tidak ada satu keraguan sedikitpun untuk hidup bersama kak Hardi.
Jodoh terkadang datangnya tiba-tiba tanpa kita rencanakan terlebih dahulu namun itulah kehendak Ilahi sebagai manusia kita hanya bisa menerimanya dengan penuh keihklasan dan kebahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar